Keinginan Palsu serta Narasi Mahfud Md yang Belumlah Usai

Keinginan Palsu serta Narasi Mahfud Md yang Belumlah Usai Joko Widodo atau Jokowi sudah sah menunjuk KH Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya. Proses penunjukkan Ma'ruf ini diwarnai dengan drama yang menyertakan bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md. Mahfud Md yang awalannya disebut-sebut akan menjadi akan calon RI-2 malah namanya tidak diumumkan dalam deklarasi. Konsolidasi Indonesia Kerja pilih Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin menjadi pendamping Jokowi. Akhir narasi ini juga sudah selesai sesudah Mahfud Md mengakui tidak geram serta sedih dengan ketetapan itu. Akan tetapi, episode kekecewaan Mahfud malah kembali muncul. Bekas Ketua Presidium Korps Alumni HMI ini buka-bukaan masalah batalnya dia jadi calon wakil presiden Jokowi. Narasi berawal pada 1 Agustus seputar jam 23.00 WIB. Mahfud diundang ke tempat tinggal Mensesneg Pratikno. Disana, Koordinator Staf Spesial Presiden Teten Masduki turut ada. Mahfud mengakui dikasih tahu masalah pilihan calon wakil presiden Jokowi telah mengerucut pada dianya. "Lantas saya dikasih tahu jika Pak Mahfud saat ini pilihan telah mengerucut ke ayah, berharap bersiap-siap, kelak pada waktunya akan diumumkan," kata Mahfud di acara Indonesian Lawyer Club yang ditayangkan TvOne, Selasa malam 14 Agustus 2018. Ia disuruh mempersiapkan kriteria jadi calon wakil presiden. Pratikno memberikan keyakinan Mahfud semua sesuatunya telah beres. Akan tetapi, Mahfud berkomunikasi dengan PKB. "Kemudian saya kerjakan komunikasi dengan orang-orangnya Cak Imin. Saya kan bukan calon dari PKB mengapa mesti ke PKB kelak beberapa orang Golkar kira saya calon dari PKB," papar Mahfud. Pratikno kembali mengundang Mahfud pada Rabu, 8 Agustus 2018 malam. Teten Masduki lagi-lagi turut dalam pertemuan. Mahfud lalu diberitakan jika Jokowi akan menginformasikan calon wakil presiden esok harinya. Pratikno juga mengulas detil seremoni deklarasi Jokowi-Mahfud. "Upacaranya kelak pergi dari Gedung Joang, Pak Mahfud Md naik sepeda motor bersama dengan Pak Jokowi bonceng. Pak Jokowi yang di muka," narasi Mahfud. Pada hari H, Kamis 9 Agustus 2018, Mahfud lalu ditelepon Seskab Pramono Anung. Pramono memohon Mahfud selekasnya menyerahkan daftar kisah hidup dengan komplet. Karena, waktu deklarasi nama mesti persis sama dengan yang berada di daftar kisah hidup. Pada saat berbarengan, asisten ajudan Jokowi menghubungi Mahfud, memintanya mengukur pakaian. Mahfud keberatan mengingat waktu yang mepet. Akhirnya, dipilihlah langkah pilihan. "Oh jika begitu Ayah bawa serta saja pakaian yang Ayah suka serta cocok bawa serta kesini kelak gunakan ukuran itu saja tetapi membuat modelnya yang sama juga dengan Pak Jokowi," kata Mahfud menirukan asisten ajudan Presiden Jokowi. Lalu seputar jam 13.00 WIB, ia berkomunikasi dengan Teten Masduki. Waktu itu Teten memberitahu dianya pengumuman calon wakil presiden Jokowi dikerjakan jam 16.00 WIB di Restauran Plataran Menteng, Jakarta Pusat. "Pak Mahfud kelak hadir kesana sekalian menanti kelak duduk apakah namanya di ruangan seberang demikian akan deklarasi kelak ya tampil tinggal menyeberang," kata Mahfud menirukan pengucapan Teten. Akan tetapi lalu, waktu pengumuman, nama Mahfud MD nyatanya tidak diambil. Jokowi waktu itu menyebutkan nama KH Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya. "Lantas saya diburu wartawan, 'bagaimana, Pak?' Ya tidak apa-apa saya terima itu menjadi kenyataan politik. Pak Pratikno berikan tahu Pak ini ada pergantian, silahkan pulang dahulu. Ya tidak apa-apa. Sedih? Kaget saja," kata Mahfud Md. Baju Putih serta Keinginan Palsu Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Dia katakan, 'Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu'. Saya agak tersinggung," kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam. Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana. Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden. Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani. Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Dia katakan, 'Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu'. Saya agak tersinggung," kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam. Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana. Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden. Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani. Masalah Tuduhan Ancaman Dalam acara talkshow itu, Mahfud juga menceritakan batalnya dia jadi calon wakil presiden diwarnai dengan ancaman jika NU tidak bertanggungjawab jika bukan kader NU sebagai calon wakil presiden Jokowi. Mahfud menceritakan info hal seperti ini didapatkan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) waktu kedua-duanya lakukan pertemuan. Waktu berjumpa dengan Cak Imin, Mahfud dikasih tahu malah Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin yang mengemukakan ancaman bila NU akan 'lepas tangan' misal kader NU tidak jadi calon wakil presiden Jokowi. "Bagaimana saya ketahui kiai Ma'ruf Amin? Muhaimin yang katakan ke saya," kata Mahfud dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang ditayangkan dengan cara langsung oleh TV One, Selasa (15/8). "Selalu saya bertanya bagaimana main ancam-ancam? 'Itu yang nyuruh kiai Ma'ruf'," kata Mahfud bercerita pengakuan Cak Imin. Kemudian, Mahfud menceritakan sehari sebelum pengumuman calon wakil presiden oleh Jokowi, berlangsung pertemuan pada Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Ma'ruf Amin, serta Cak Imin di Kantor PBNU. Pertemuan itu mengulas calon wakil presiden. Pertemuan diselenggarakan selesai ketiganya di panggil dengan terpisah ke Istana oleh Jokowi yang memohon input figur calon wakil presiden. Mereka, kata Mahfud, geram karena ketiganya tidak disinggung menjadi 'calon' oleh Jokowi. Karena, waktu di panggil, Jokowi tidak menyebutkan satu juga dari mereka bertiga menjadi 'calon'. "Tiga orang ini berkesimpulan jika mereka bukan calonnya karena waktu di panggil tidak dimaksud 'calon'. Lantas mereka kelihatannya geram mengulas," katanya. Menurut Mahfud, dari sinilah 'ancaman' itu keluar. Ancaman jika NU tidak bertanggungjawab dengan kepribadian pada pemerintahan bila bukan kader NU sebagai calon wakil presiden. "Lalu Kiai Ma'ruf 'Kalau demikian kita nyatakan kita tidak bertanggungjawab dengan kepribadian atas pemerintahan ini jika bukan kader NU yang diambil. Ini kata Muhaimin," tutur Mahfud. Berkaitan pengakuan itu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menilainya tidak ada ancaman yang dikirimkan Ma'ruf Amin pada Jokowi. Menurutnya, tuduhan Ma'ruf cuma untuk bentuk ekspresi kekecewaan biasa. "Itu sikap ekspresi Pak Mahfud Md. Itu adalah satu hal manusiawi lah tetapi tidak ada ancam meneror, ditambah lagi kita lihat figur Kiai Ma'ruf itu adalah figur pengayom," kata Hasto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Hasto menyampaikan, penunjukkan Ma'ruf Amin menjadi calon wakil presiden Jokowi telah lewat sistem. Dimana, Jokowi terlebih dulu menghimpun beberapa ketua umum parpol konsolidasi sebelum menginformasikan nama cawapresnya. Nama Mahfud Md, lanjut Hasto, belum pernah diumumkan jika akan menjadi calon wakil presiden Jokowi. "Akan menjadi masalah terkecuali telah diputuskan menjadi calon lalu dibatalkan. Ini kan belumlah ada masalah penetapan waktu itu. Tetapi ya kami mengerti itu suatu ekspresi," tutur dia. Hasto mengaku, sebelum pengumuman nama calon wakil presiden dikerjakan Jokowi mempunyai pilihan calon wakil presiden lainnya tidak hanya Ma'ruf Amin. Akan tetapi dia tidak menyebutkan Mahfud Md termasuk juga satu diantara pilihan itu. "(Saat itu) Presiden memohon sebagian orang persiapan karena apa pun menyangkut pemimpin negara mesti ada pilihan opsi serta pilihan opsi itu dikerjakan beberapa ketua umum partai," papar dia. Selain itu, Ketua DPP Partai kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy berlaga agak keras. Dia memandang Mahfud Md masih tetap emosi karena tidak diambil jadi cawapres oleh Jokowi. Pak Mahfud masih tetap emosi meskipun dia jelaskan legowo, tetapi kan nendang kesana ke mari. Emosi itu masih tetap ada," tutur Lukman di Media Center Team Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (15/7/2018). Berkaitan ada pertemuan tertutup pada Ma'ruf Amin, Muhaimin Iskandar serta Ketua PBNU Said Aqil Siroj, satu hari sebelum pengumuman calon wakil presiden Jokowi, Lukman mengakui malas memaparkan akhirnya. Dia cuma mengatakan pertemuan membuahkan suatu yang konstruktif. "Menurut saya semua konstruktif. Karena tidak mungkin saja lah PBNU sampai, politik NU kan high politics," kata Lukman Edy. Dia menyanggah pertemuan Cak Imin, Ma'ruf Amin serta Said Aqil memfinalisasi nama calon wakil presiden dari unsur NU yang akan disodorkan ke Jokowi. "Menjadi sampai tunjuk nama tidak mungkin saja. PBNU kan sadar juga bukan partai politik. Tetapi jika lalu PBNU mengawal proses politik itu agar tidak lari dari moralitas NU itu saya duga peranan PBNU," tegas dia. Senyum Untuk Mega Walaupun Mahfud sudah membuka apakah yang dia rasakan, akan tetapi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto masih memandang masalah dengan Mahfud Md telah tuntas. Mahfud dipandang bisa terima dengan lega dada ketetapan yang diambil Jokowi. Menurutnya, ini diperlihatkan oleh sikap Mahfud MD waktu berjumpa dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Mahfud bahkan juga tersenyum waktu berjumpa Megawati di kantor BPIP. "Pak Mahfud MD sendiri begitu legowo. Beliau barusan sudah berjumpa dalam rapat Tubuh Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan Ibu Megawati, Pak Try Sutrisno, Buya Syafei Ma’arif, serta yang lain, semua memperlihatkan keakraban diantara pemimpin," kata Hasto, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Dia juga sudah sempat menyinggung masalah mahar politik. Buat Konsolidasi Indonesia Kerja, lanjut dia, calon presiden serta calon wakil presiden ialah calon pemimpin untuk rakyat, pemimpin negara dan bangsa yang hasilnya tidak bisa dikotori oleh praktik politik uang. "Awal kehancuran satu bangsa jika pilih pemimpin tertingginya dikerjakan dengan meremehkan kepribadian, norma, serta keadaban publik. Kami semua benar-benar heran, begitu murahnya referensi menjadi calon wakil presiden. Ini deskripsi rusaknya peradaban politik bangsa. Mereka yang sudah memperjual belikan penyalonan cuma untuk uang tidak dapat dibetulkan lewat cara apa pun," papar Hasto. Menurutnya, PDIP yakin pada nada hati beberapa pemimpin untuk mengawasi martabat, norma serta keadaban bangsa. "Janganlah buat jadi pemilihan presiden menjadi pertempuran kemampuan uang. Kami bangga dengan Pak Jokowi yang sudah pilih KH Mar’uf atas basic pilihan nurani. Kita mencari pemimpin, bukan pedagang politik," kata Hasto.
Keinginan Palsu serta Narasi Mahfud Md yang Belumlah Usai Joko Widodo atau Jokowi sudah sah menunjuk KH Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya. Proses penunjukkan Ma'ruf ini diwarnai dengan drama yang menyertakan bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md. Mahfud Md yang awalannya disebut-sebut akan menjadi akan calon RI-2 malah namanya tidak diumumkan dalam deklarasi. Konsolidasi Indonesia Kerja pilih Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin menjadi pendamping Jokowi. Akhir narasi ini juga sudah selesai sesudah Mahfud Md mengakui tidak geram serta sedih dengan ketetapan itu. Akan tetapi, episode kekecewaan Mahfud malah kembali muncul. Bekas Ketua Presidium Korps Alumni HMI ini buka-bukaan masalah batalnya dia jadi calon wakil presiden Jokowi. Narasi berawal pada 1 Agustus seputar jam 23.00 WIB. Mahfud diundang ke tempat tinggal Mensesneg Pratikno. Disana, Koordinator Staf Spesial Presiden Teten Masduki turut ada. Mahfud mengakui dikasih tahu masalah pilihan calon wakil presiden Jokowi telah mengerucut pada dianya. "Lantas saya dikasih tahu jika Pak Mahfud saat ini pilihan telah mengerucut ke ayah, berharap bersiap-siap, kelak pada waktunya akan diumumkan," kata Mahfud di acara Indonesian Lawyer Club yang ditayangkan TvOne, Selasa malam 14 Agustus 2018. Ia disuruh mempersiapkan kriteria jadi calon wakil presiden. Pratikno memberikan keyakinan Mahfud semua sesuatunya telah beres. Akan tetapi, Mahfud berkomunikasi dengan PKB. "Kemudian saya kerjakan komunikasi dengan orang-orangnya Cak Imin. Saya kan bukan calon dari PKB mengapa mesti ke PKB kelak beberapa orang Golkar kira saya calon dari PKB," papar Mahfud. Pratikno kembali mengundang Mahfud pada Rabu, 8 Agustus 2018 malam. Teten Masduki lagi-lagi turut dalam pertemuan. Mahfud lalu diberitakan jika Jokowi akan menginformasikan calon wakil presiden esok harinya. Pratikno juga mengulas detil seremoni deklarasi Jokowi-Mahfud. "Upacaranya kelak pergi dari Gedung Joang, Pak Mahfud Md naik sepeda motor bersama dengan Pak Jokowi bonceng. Pak Jokowi yang di muka," narasi Mahfud. Pada hari H, Kamis 9 Agustus 2018, Mahfud lalu ditelepon Seskab Pramono Anung. Pramono memohon Mahfud selekasnya menyerahkan daftar kisah hidup dengan komplet. Karena, waktu deklarasi nama mesti persis sama dengan yang berada di daftar kisah hidup. Pada saat berbarengan, asisten ajudan Jokowi menghubungi Mahfud, memintanya mengukur pakaian. Mahfud keberatan mengingat waktu yang mepet. Akhirnya, dipilihlah langkah pilihan. "Oh jika begitu Ayah bawa serta saja pakaian yang Ayah suka serta cocok bawa serta kesini kelak gunakan ukuran itu saja tetapi membuat modelnya yang sama juga dengan Pak Jokowi," kata Mahfud menirukan asisten ajudan Presiden Jokowi. Lalu seputar jam 13.00 WIB, ia berkomunikasi dengan Teten Masduki. Waktu itu Teten memberitahu dianya pengumuman calon wakil presiden Jokowi dikerjakan jam 16.00 WIB di Restauran Plataran Menteng, Jakarta Pusat. "Pak Mahfud kelak hadir kesana sekalian menanti kelak duduk apakah namanya di ruangan seberang demikian akan deklarasi kelak ya tampil tinggal menyeberang," kata Mahfud menirukan pengucapan Teten. Akan tetapi lalu, waktu pengumuman, nama Mahfud MD nyatanya tidak diambil. Jokowi waktu itu menyebutkan nama KH Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya. "Lantas saya diburu wartawan, 'bagaimana, Pak?' Ya tidak apa-apa saya terima itu menjadi kenyataan politik. Pak Pratikno berikan tahu Pak ini ada pergantian, silahkan pulang dahulu. Ya tidak apa-apa. Sedih? Kaget saja," kata Mahfud Md. Baju Putih serta Keinginan Palsu Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Dia katakan, 'Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu'. Saya agak tersinggung," kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam. Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana. Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden. Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani. Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Dia katakan, 'Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu'. Saya agak tersinggung," kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam. Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana. Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden. Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani. Masalah Tuduhan Ancaman Dalam acara talkshow itu, Mahfud juga menceritakan batalnya dia jadi calon wakil presiden diwarnai dengan ancaman jika NU tidak bertanggungjawab jika bukan kader NU sebagai calon wakil presiden Jokowi. Mahfud menceritakan info hal seperti ini didapatkan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) waktu kedua-duanya lakukan pertemuan. Waktu berjumpa dengan Cak Imin, Mahfud dikasih tahu malah Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin yang mengemukakan ancaman bila NU akan 'lepas tangan' misal kader NU tidak jadi calon wakil presiden Jokowi. "Bagaimana saya ketahui kiai Ma'ruf Amin? Muhaimin yang katakan ke saya," kata Mahfud dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang ditayangkan dengan cara langsung oleh TV One, Selasa (15/8). "Selalu saya bertanya bagaimana main ancam-ancam? 'Itu yang nyuruh kiai Ma'ruf'," kata Mahfud bercerita pengakuan Cak Imin. Kemudian, Mahfud menceritakan sehari sebelum pengumuman calon wakil presiden oleh Jokowi, berlangsung pertemuan pada Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Ma'ruf Amin, serta Cak Imin di Kantor PBNU. Pertemuan itu mengulas calon wakil presiden. Pertemuan diselenggarakan selesai ketiganya di panggil dengan terpisah ke Istana oleh Jokowi yang memohon input figur calon wakil presiden. Mereka, kata Mahfud, geram karena ketiganya tidak disinggung menjadi 'calon' oleh Jokowi. Karena, waktu di panggil, Jokowi tidak menyebutkan satu juga dari mereka bertiga menjadi 'calon'. "Tiga orang ini berkesimpulan jika mereka bukan calonnya karena waktu di panggil tidak dimaksud 'calon'. Lantas mereka kelihatannya geram mengulas," katanya. Menurut Mahfud, dari sinilah 'ancaman' itu keluar. Ancaman jika NU tidak bertanggungjawab dengan kepribadian pada pemerintahan bila bukan kader NU sebagai calon wakil presiden. "Lalu Kiai Ma'ruf 'Kalau demikian kita nyatakan kita tidak bertanggungjawab dengan kepribadian atas pemerintahan ini jika bukan kader NU yang diambil. Ini kata Muhaimin," tutur Mahfud. Berkaitan pengakuan itu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menilainya tidak ada ancaman yang dikirimkan Ma'ruf Amin pada Jokowi. Menurutnya, tuduhan Ma'ruf cuma untuk bentuk ekspresi kekecewaan biasa. "Itu sikap ekspresi Pak Mahfud Md. Itu adalah satu hal manusiawi lah tetapi tidak ada ancam meneror, ditambah lagi kita lihat figur Kiai Ma'ruf itu adalah figur pengayom," kata Hasto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Hasto menyampaikan, penunjukkan Ma'ruf Amin menjadi calon wakil presiden Jokowi telah lewat sistem. Dimana, Jokowi terlebih dulu menghimpun beberapa ketua umum parpol konsolidasi sebelum menginformasikan nama cawapresnya. Nama Mahfud Md, lanjut Hasto, belum pernah diumumkan jika akan menjadi calon wakil presiden Jokowi. "Akan menjadi masalah terkecuali telah diputuskan menjadi calon lalu dibatalkan. Ini kan belumlah ada masalah penetapan waktu itu. Tetapi ya kami mengerti itu suatu ekspresi," tutur dia. Hasto mengaku, sebelum pengumuman nama calon wakil presiden dikerjakan Jokowi mempunyai pilihan calon wakil presiden lainnya tidak hanya Ma'ruf Amin. Akan tetapi dia tidak menyebutkan Mahfud Md termasuk juga satu diantara pilihan itu. "(Saat itu) Presiden memohon sebagian orang persiapan karena apa pun menyangkut pemimpin negara mesti ada pilihan opsi serta pilihan opsi itu dikerjakan beberapa ketua umum partai," papar dia. Selain itu, Ketua DPP Partai kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy berlaga agak keras. Dia memandang Mahfud Md masih tetap emosi karena tidak diambil jadi cawapres oleh Jokowi. Pak Mahfud masih tetap emosi meskipun dia jelaskan legowo, tetapi kan nendang kesana ke mari. Emosi itu masih tetap ada," tutur Lukman di Media Center Team Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (15/7/2018). Berkaitan ada pertemuan tertutup pada Ma'ruf Amin, Muhaimin Iskandar serta Ketua PBNU Said Aqil Siroj, satu hari sebelum pengumuman calon wakil presiden Jokowi, Lukman mengakui malas memaparkan akhirnya. Dia cuma mengatakan pertemuan membuahkan suatu yang konstruktif. "Menurut saya semua konstruktif. Karena tidak mungkin saja lah PBNU sampai, politik NU kan high politics," kata Lukman Edy. Dia menyanggah pertemuan Cak Imin, Ma'ruf Amin serta Said Aqil memfinalisasi nama calon wakil presiden dari unsur NU yang akan disodorkan ke Jokowi. "Menjadi sampai tunjuk nama tidak mungkin saja. PBNU kan sadar juga bukan partai politik. Tetapi jika lalu PBNU mengawal proses politik itu agar tidak lari dari moralitas NU itu saya duga peranan PBNU," tegas dia. Senyum Untuk Mega Walaupun Mahfud sudah membuka apakah yang dia rasakan, akan tetapi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto masih memandang masalah dengan Mahfud Md telah tuntas. Mahfud dipandang bisa terima dengan lega dada ketetapan yang diambil Jokowi. Menurutnya, ini diperlihatkan oleh sikap Mahfud MD waktu berjumpa dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Mahfud bahkan juga tersenyum waktu berjumpa Megawati di kantor BPIP. "Pak Mahfud MD sendiri begitu legowo. Beliau barusan sudah berjumpa dalam rapat Tubuh Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan Ibu Megawati, Pak Try Sutrisno, Buya Syafei Ma’arif, serta yang lain, semua memperlihatkan keakraban diantara pemimpin," kata Hasto, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Dia juga sudah sempat menyinggung masalah mahar politik. Buat Konsolidasi Indonesia Kerja, lanjut dia, calon presiden serta calon wakil presiden ialah calon pemimpin untuk rakyat, pemimpin negara dan bangsa yang hasilnya tidak bisa dikotori oleh praktik politik uang. "Awal kehancuran satu bangsa jika pilih pemimpin tertingginya dikerjakan dengan meremehkan kepribadian, norma, serta keadaban publik. Kami semua benar-benar heran, begitu murahnya referensi menjadi calon wakil presiden. Ini deskripsi rusaknya peradaban politik bangsa. Mereka yang sudah memperjual belikan penyalonan cuma untuk uang tidak dapat dibetulkan lewat cara apa pun," papar Hasto. Menurutnya, PDIP yakin pada nada hati beberapa pemimpin untuk mengawasi martabat, norma serta keadaban bangsa. "Janganlah buat jadi pemilihan presiden menjadi pertempuran kemampuan uang. Kami bangga dengan Pak Jokowi yang sudah pilih KH Mar’uf atas basic pilihan nurani. Kita mencari pemimpin, bukan pedagang politik," kata Hasto.

Keinginan Palsu serta Narasi Mahfud Md yang Belumlah Usai

Joko Widodo atau Jokowi sudah sah menunjuk KH Ma’ruf Amin menjadi cawapresnya. Proses penunjukkan Ma’ruf ini diwarnai dengan drama yang menyertakan bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md.

Mahfud Md yang awalannya disebut-sebut akan menjadi akan calon RI-2 malah namanya tidak diumumkan dalam deklarasi. Konsolidasi Indonesia Kerja pilih Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin menjadi pendamping Jokowi.

Akhir narasi ini juga sudah selesai sesudah Mahfud Md mengakui tidak geram serta sedih dengan ketetapan itu. Akan tetapi, episode kekecewaan Mahfud malah kembali muncul. Bekas Ketua Presidium Korps Alumni HMI ini buka-bukaan masalah batalnya dia jadi calon wakil presiden Jokowi.

Narasi berawal pada 1 Agustus seputar jam 23.00 WIB. Mahfud diundang ke tempat tinggal Mensesneg Pratikno. Disana, Koordinator Staf Spesial Presiden Teten Masduki turut ada. Mahfud mengakui dikasih tahu masalah pilihan calon wakil presiden Jokowi telah mengerucut pada dianya.

“Lantas saya dikasih tahu jika Pak Mahfud saat ini pilihan telah mengerucut ke ayah, berharap bersiap-siap, kelak pada waktunya akan diumumkan,” kata Mahfud di acara Indonesian Lawyer Club yang ditayangkan TvOne, Selasa malam 14 Agustus 2018.

Ia disuruh mempersiapkan kriteria jadi calon wakil presiden. Pratikno memberikan keyakinan Mahfud semua sesuatunya telah beres. Akan tetapi, Mahfud berkomunikasi dengan PKB.

“Kemudian saya kerjakan komunikasi dengan orang-orangnya Cak Imin. Saya kan bukan calon dari PKB mengapa mesti ke PKB kelak beberapa orang Golkar kira saya calon dari PKB,” papar Mahfud.

Pratikno kembali mengundang Mahfud pada Rabu, 8 Agustus 2018 malam. Teten Masduki lagi-lagi turut dalam pertemuan. Mahfud lalu diberitakan jika Jokowi akan menginformasikan calon wakil presiden esok harinya. Pratikno juga mengulas detil seremoni deklarasi Jokowi-Mahfud.

“Upacaranya kelak pergi dari Gedung Joang, Pak Mahfud Md naik sepeda motor bersama dengan Pak Jokowi bonceng. Pak Jokowi yang di muka,” narasi Mahfud.

Pada hari H, Kamis 9 Agustus 2018, Mahfud lalu ditelepon Seskab Pramono Anung. Pramono memohon Mahfud selekasnya menyerahkan daftar kisah hidup dengan komplet.

Karena, waktu deklarasi nama mesti persis sama dengan yang berada di daftar kisah hidup. Pada saat berbarengan, asisten ajudan Jokowi menghubungi Mahfud, memintanya mengukur pakaian.

Mahfud keberatan mengingat waktu yang mepet. Akhirnya, dipilihlah langkah pilihan. “Oh jika begitu Ayah bawa serta saja pakaian yang Ayah suka serta cocok bawa serta kesini kelak gunakan ukuran itu saja tetapi membuat modelnya yang sama juga dengan Pak Jokowi,” kata Mahfud menirukan asisten ajudan Presiden Jokowi.

Lalu seputar jam 13.00 WIB, ia berkomunikasi dengan Teten Masduki. Waktu itu Teten memberitahu dianya pengumuman calon wakil presiden Jokowi dikerjakan jam 16.00 WIB di Restauran Plataran Menteng, Jakarta Pusat.

“Pak Mahfud kelak hadir kesana sekalian menanti kelak duduk apakah namanya di ruangan seberang demikian akan deklarasi kelak ya tampil tinggal menyeberang,” kata Mahfud menirukan pengucapan Teten.

Akan tetapi lalu, waktu pengumuman, nama Mahfud MD nyatanya tidak diambil. Jokowi waktu itu menyebutkan nama KH Ma’ruf Amin menjadi cawapresnya.

“Lantas saya diburu wartawan, ‘bagaimana, Pak?’ Ya tidak apa-apa saya terima itu menjadi kenyataan politik. Pak Pratikno berikan tahu Pak ini ada pergantian, silahkan pulang dahulu. Ya tidak apa-apa. Sedih? Kaget saja,” kata Mahfud Md.

Baju Putih serta Keinginan Palsu

Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy.

Dia katakan, ‘Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu’. Saya agak tersinggung,” kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam.

Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana.

Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden.

Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani.

Masalah baju putih yang dipakai Mahfud Md mendekati pengumuman calon wakil presiden Jokowi, nyatanya tersisa narasi tersediri. Kekecewaan dihadapi Mahfud karena perkataan Ketua Umum PPP Romahurmuziy.

Dia katakan, ‘Pak Mahfud tuch kan maunya sendiri tuturnya membuat pakaian sendiri, siapa yang nyuruh itu’. Saya agak tersinggung,” kata Mahfud menirukan pengakuan Romi dalam acara Indonesia Lawyers Club di TvOne, Selasa (14/8/2018) malam.

Pakaian yang disebut ialah baju putih yang dipakai Mahfud mendekati Jokowi mengumumkan calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Walau sebenarnya, Mahfud kenakan pakaian itu berdasar pada instruksi dari pihak Istana.

Yang membuat Mahfud kesal, satu hari sebelum pengumuman nama pendamping Jokowi, Romi menyampaikan jika namanya telah final diambil menjadi calon wakil presiden.

Hal tersebut disebutkan Romi waktu berjumpa di tempat tinggal Mahfud. Pertemuan itu didesain lewat Sekjen PPP Arsul Sani.

Masalah Tuduhan Ancaman

Dalam acara talkshow itu, Mahfud juga menceritakan batalnya dia jadi calon wakil presiden diwarnai dengan ancaman jika NU tidak bertanggungjawab jika bukan kader NU sebagai calon wakil presiden Jokowi.

Mahfud menceritakan info hal seperti ini didapatkan oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) waktu kedua-duanya lakukan pertemuan.

Waktu berjumpa dengan Cak Imin, Mahfud dikasih tahu malah Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin yang mengemukakan ancaman bila NU akan ‘lepas tangan’ misal kader NU tidak jadi calon wakil presiden Jokowi.

“Bagaimana saya ketahui kiai Ma’ruf Amin? Muhaimin yang katakan ke saya,” kata Mahfud dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang ditayangkan dengan cara langsung oleh TV One, Selasa (15/8).

“Selalu saya bertanya bagaimana main ancam-ancam? ‘Itu yang nyuruh kiai Ma’ruf’,” kata Mahfud bercerita pengakuan Cak Imin.

Kemudian, Mahfud menceritakan sehari sebelum pengumuman calon wakil presiden oleh Jokowi, berlangsung pertemuan pada Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Ma’ruf Amin, serta Cak Imin di Kantor PBNU. Pertemuan itu mengulas calon wakil presiden.

Pertemuan diselenggarakan selesai ketiganya di panggil dengan terpisah ke Istana oleh Jokowi yang memohon input figur calon wakil presiden. Mereka, kata Mahfud, geram karena ketiganya tidak disinggung menjadi ‘calon’ oleh Jokowi. Karena, waktu di panggil, Jokowi tidak menyebutkan satu juga dari mereka bertiga menjadi ‘calon’.

“Tiga orang ini berkesimpulan jika mereka bukan calonnya karena waktu di panggil tidak dimaksud ‘calon’. Lantas mereka kelihatannya geram mengulas,” katanya.

Menurut Mahfud, dari sinilah ‘ancaman’ itu keluar. Ancaman jika NU tidak bertanggungjawab dengan kepribadian pada pemerintahan bila bukan kader NU sebagai calon wakil presiden.

“Lalu Kiai Ma’ruf ‘Kalau demikian kita nyatakan kita tidak bertanggungjawab dengan kepribadian atas pemerintahan ini jika bukan kader NU yang diambil. Ini kata Muhaimin,” tutur Mahfud.

Berkaitan pengakuan itu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menilainya tidak ada ancaman yang dikirimkan Ma’ruf Amin pada Jokowi. Menurutnya, tuduhan Ma’ruf cuma untuk bentuk ekspresi kekecewaan biasa.

“Itu sikap ekspresi Pak Mahfud Md. Itu adalah satu hal manusiawi lah tetapi tidak ada ancam meneror, ditambah lagi kita lihat figur Kiai Ma’ruf itu adalah figur pengayom,” kata Hasto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Hasto menyampaikan, penunjukkan Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden Jokowi telah lewat sistem. Dimana, Jokowi terlebih dulu menghimpun beberapa ketua umum parpol konsolidasi sebelum menginformasikan nama cawapresnya.

Nama Mahfud Md, lanjut Hasto, belum pernah diumumkan jika akan menjadi calon wakil presiden Jokowi.

“Akan menjadi masalah terkecuali telah diputuskan menjadi calon lalu dibatalkan. Ini kan belumlah ada masalah penetapan waktu itu. Tetapi ya kami mengerti itu suatu ekspresi,” tutur dia.

Hasto mengaku, sebelum pengumuman nama calon wakil presiden dikerjakan Jokowi mempunyai pilihan calon wakil presiden lainnya tidak hanya Ma’ruf Amin. Akan tetapi dia tidak menyebutkan Mahfud Md termasuk juga satu diantara pilihan itu.

“(Saat itu) Presiden memohon sebagian orang persiapan karena apa pun menyangkut pemimpin negara mesti ada pilihan opsi serta pilihan opsi itu dikerjakan beberapa ketua umum partai,” papar dia.

Selain itu, Ketua DPP Partai kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy berlaga agak keras. Dia memandang Mahfud Md masih tetap emosi karena tidak diambil jadi cawapres oleh Jokowi.

Pak Mahfud masih tetap emosi meskipun dia jelaskan legowo, tetapi kan nendang kesana ke mari. Emosi itu masih tetap ada,” tutur Lukman di Media Center Team Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (15/7/2018).

Berkaitan ada pertemuan tertutup pada Ma’ruf Amin, Muhaimin Iskandar serta Ketua PBNU Said Aqil Siroj, satu hari sebelum pengumuman calon wakil presiden Jokowi, Lukman mengakui malas memaparkan akhirnya.

Dia cuma mengatakan pertemuan membuahkan suatu yang konstruktif.

“Menurut saya semua konstruktif. Karena tidak mungkin saja lah PBNU sampai, politik NU kan high politics,” kata Lukman Edy.

Dia menyanggah pertemuan Cak Imin, Ma’ruf Amin serta Said Aqil memfinalisasi nama calon wakil presiden dari unsur NU yang akan disodorkan ke Jokowi.

“Menjadi sampai tunjuk nama tidak mungkin saja. PBNU kan sadar juga bukan partai politik. Tetapi jika lalu PBNU mengawal proses politik itu agar tidak lari dari moralitas NU itu saya duga peranan PBNU,” tegas dia.

Senyum Untuk Mega

Walaupun Mahfud sudah membuka apakah yang dia rasakan, akan tetapi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto masih memandang masalah dengan Mahfud Md telah tuntas. Mahfud dipandang bisa terima dengan lega dada ketetapan yang diambil Jokowi.

Menurutnya, ini diperlihatkan oleh sikap Mahfud MD waktu berjumpa dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Mahfud bahkan juga tersenyum waktu berjumpa Megawati di kantor BPIP.

“Pak Mahfud MD sendiri begitu legowo. Beliau barusan sudah berjumpa dalam rapat Tubuh Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan Ibu Megawati, Pak Try Sutrisno, Buya Syafei Ma’arif, serta yang lain, semua memperlihatkan keakraban diantara pemimpin,” kata Hasto, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Dia juga sudah sempat menyinggung masalah mahar politik. Buat Konsolidasi Indonesia Kerja, lanjut dia, calon presiden serta calon wakil presiden ialah calon pemimpin untuk rakyat, pemimpin negara dan bangsa yang hasilnya tidak bisa dikotori oleh praktik politik uang.

“Awal kehancuran satu bangsa jika pilih pemimpin tertingginya dikerjakan dengan meremehkan kepribadian, norma, serta keadaban publik. Kami semua benar-benar heran, begitu murahnya referensi menjadi calon wakil presiden. Ini deskripsi rusaknya peradaban politik bangsa. Mereka yang sudah memperjual belikan penyalonan cuma untuk uang tidak dapat dibetulkan lewat cara apa pun,” papar Hasto.

Menurutnya, PDIP yakin pada nada hati beberapa pemimpin untuk mengawasi martabat, norma serta keadaban bangsa.

“Janganlah buat jadi pemilihan presiden menjadi pertempuran kemampuan uang. Kami bangga dengan Pak Jokowi yang sudah pilih KH Mar’uf atas basic pilihan nurani. Kita mencari pemimpin, bukan pedagang politik,” kata Hasto.

 

<h2></h2> <>

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*